Home / News / Bitcoin / Bagian Kedua – Sejarah Skalabilitas Bitcoin
Bagian Ketiga - Skalabilitas Bitcoin - Bagian Kedua - Sejarah Skalabilitas Bitcoin

Bagian Kedua – Sejarah Skalabilitas Bitcoin

Bagian Kedua – Dan Perdebatan Tetap Berlanjut

Bagian Kedua – Skalabilitas Bitcoin. Dan perdebatan tentang skalabilitas Bitcoin terus berlanjut. Pada artikel sebelumnya,  kita telah ketahui, bahwa pada masa awal bitcoin pertama kali dikenalkan, juga telah ada perdebatan tersebut.

medan-meetup

Pada bagian kedua Sejarah Skalabilitas Bitcoin ini, akan mulai berhubungan dengan startup bitcoin Blockstream, ide-ide tentang Sidechain, Segwit, dan perdebatan yang melingkupinya.

Kontroversi Blockstream – 2014

Blockstream, adalah sebuah startup berbasis teknologi blockchain yang didirikan oleh Adam Back di tahun 2014. Adam Back, dibantu juga bersama Gregory Maxwell sebagai CTO, dan juga Austin Hill. Awalnya, pendirian perusahaan ini diharapkan untuk secara khusus mencarikan pendanaan untuk tim developer Bitcoin Core.

Orang-orang yang berada dibelakang Blockctream, dapat adalah orang-orang yang telah cukup lama berkecimpung di dunia crypto. Sebut saja Adam Back, sebelum Bitcoin, dia adalah pencetus HashCash. Sedangkan banyak orang lainnya, adalah juga berasal dari developer Bitcoin Core, seperti Grex Maxwell, Pieter Wuille, dan juga Matt Corallo.

Dalam waktu tidak lama, Blockstream berhasil mendapat dana kurang lebih 76 miliar dolar dari beberapa perusahaan. Beberapa perusahaan yang menanamkan investasi pada Blockstream seperti Horizons Ventures, Mosaic Ventures, Khosla Ventures, maupun dari Reid Hoffman (Pendiri LinkedIn).

Begitu banyak perusahaan yang cukup tertarik untuk memberikan investasi itu, tentu saja merasa cukup yakin dengan jajaran orang-orang yang ada dibelakangnya. Individu-individu di dalam Blockstream, juga telah cukup banyak berkontribusi pada sejumlah grup non Bitcoin seperti IETF, W3C, Linux Foundation, maupun juga Hyperledger.

Bagian Kedua - Sejarah Skalabilitas Bitcoin - Blockstream
Beberapa developer Core Bitcoin yang bergabung di Blockstream

Alhasil, Blockstream memang memberikan banyak inovasi baru dalam teknologi blockchain. Seperti yang telah banyak kita dengar, yakni tentang Sidechains (22 Oktober 2014), Segregated Witness (biasa disebut Segwit), dan banyak lagi lainnya.

Dengan karakter Bitcoin yang bersifat proyek open source, membuat banyak orang merasa bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai akses untuk merubah, ataupun berusaha mendapat persetujuan atas beberapa hal pada Core Bitcoin.

Selain itu, banyak juga persepsi yang menganggap bahwa eksperimen untuk pengembangan protokol Bitcoin seakan menjadi tidak tersentuh selama beberapa tahun kemudian. Lantas, mulailah ada anggapan adanya ketidakjelasan posisi pada orang-orang yang ada dibelakang Blockstream, atas banyak hal yang semestinya bisa dilakukan untuk pengembangan Bitcoin lebih jauh.

Adam Back sendiri, menjelaskan bahwa kaitan antara Blockstream dan Bitcoin Core adalah dua entitas yang berbeda, meskipun banyak orang dari developer Bitcoin Core yang berada di Blockstream. Namun, garis besarnya, developer Bitcoin Core adalah sebuah grup developer independen yang lebih fokus untuk membuat pilihan terbaik yang sesuai dengan ekosistem Bitcoin.

Karena dianggap tidak banyak melakukan banyak perubahan yang esensial, maka kemudian orang-orang Blockstream lantas dianggap sebagai anti big block. Dari sinilah, kemudian akan muncul cabang lain dari Core seperti halnya Segwit, Bitcoin Classic, hingga Bitcoin Unlimited. Garis besarnya, merasa pengembangan Bitcoin seakan dirasakan stagnan. Sementara, dilain hal lagi, cukup banyak juga persepsi developer bitcoin core, lebih banyak fokus di Blockstream ketimbang untuk Bitcoin Core.

Belum lagi, pada perkembangan selanjutnya, bakal muncul kontroversi lanjutan antara beberapa orang Blockstream, dengan pengurus beberapa komunitas Bitcoin besar. Themos, yang diketahui adalah administrator bitcointalk dan juga reddit Bitcoin, merasa ingin membangun software forum lain bernama Epochtalk.

Di sepanjang tahun 2014 hingga 2015, perdebatan tentang skalabilitas Bitcoin tetap masih berjalan tak ada titik temu, masing-masing perbedaan yang ada, seakan membentuk dua kelompok besar, antara yang pro dengan block besar (big block), dengan yang anti block besar (tidak melakukan perubahan ekstrim protokol mendasar bitcoin). Hingga kemudian, Blockstream merilis whitepaper Sidechain.

Sidechain “The Altcoin Killer” – Blockstream 22 Oktober 2014

Sidechain dipelopori oleh startup bitcoin Blockstream. Lantas whitepaper Sidechain pun dirilis pada 22 Oktober 2014. Disusun oleh Adam Back, Matt Corallo, LukeDashjr, Mark Friedenbach, Gregory Maxwell, Andrew Miller, Andrew Poelstra, Jorge Timon, dan juga Pieter Wuille.

Garis besarnya, dengan Sidechain, bakal menjadi penghubung dua network yang berbeda. Lebih jauh, dengan karakternya yang bakal mampu saling menghubungkan dua network yang berbeda ini, tentu saja akan mampu mempertajam ruang cryptocurrency. Banyak orang kemudian menyebut Sidechain sebagai “altcoin killer”. Tentu saja, jika Sidechain berhasil diimplementasikan, maka artinya, dua blockchain yang berasal dari network yang berbeda, akan dapat saling diintegerasikan. Sehingga, asset diantara keduanya dapat pula dipertukarkan.

Sidechain, disusun dengan infrastruktur yang cukup ideal untuk diterapkan di Bitcoin. Meskipun memang akan membutuhkan banyak waktu guna implementasi maupun eksperimen yang harus dilakukan. Meski demikian, Blockstream cukup yakin bahwa nantinya, Bitcoin akan cukup banyak memberikan warna cerah di masa mendatang.

Bagian Kedua - Skalabilitas Bitcoin - Sidechain
Cara kerja Sidechain (Gambar: Coindesk).

Berdasarkan whitepaper Sidechain, konsep yang ditawarkan bernama “Pegged Block”, yang nantinya mampu menginteraksikan dua network yang berbeda. Pegged Block ini, dikoneksikan dengan output khusus yang dilengkapi dengan proof of certifying pada sejumlah bitcoin yang hendak dipertukarkan untuk aset lainnya. Sementara, “two-way peg”, sebagai eksekutor antara dua nilai dari dua aset yang berbeda tersebut.

Sedangkan implementasi yang diperlukan agar Sidechain dapat berjalan mulus, membutuhkan merge mining. Hal itu diperlukan, untuk proses proof of certifying, karena tentu, dua network yang berbeda bakal membutuhkan proof of work yang berbeda dari network yang berbeda pula. Salah satu hal yang perlu dipertimbangkan, adalah karena adanya potensi fraud, jika sampai nantinya akan berdampak adanya sentralisasi ekosistem pertambangan Bitcoin.

Ketika ini mulai diimplementasikan, tentu saja para penambang mungkin bakal membutuhkan biaya yang lebih besar, karena nantinya network Bitcoin juga bakal lebih mendukung untuk blockchain dari network yang berbeda.

Maka jelaslah, jika semakin banyak biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh para penambang, maka hanya para penambang besar saja yang nantinya paling memungkinkan untuk tetap menjalankan ekosistem pertambangan. Hal tersebut, tentu akan makin mempersempit ruang para penambang, dan memperbesar resiko terjadi sentralisasi ekosistem pertambangan.

Alhasil, semenjak whitepaper itu dirilis, komunitas crypto memberikan dua pendapat besar yang berbeda. Sebagian menyatakan bahwa ide ini, akan banyak memberikan inovasi bagi dunia cryptocurrency khususnya Bitcoin. Sementara sebagian lainnya, bakal memberikan dampak yang buruk karena resiko sentralisasi yang mungkin saja terjadi sebagai implikasinya.  Landasan pemikiran yang menanggapi negatif tentang ide Sidechain, berharap inovasi ekosistem Bitcoin, tidaklah perlu harus berhubungan dengan altcoin.

Awalnya, Sidechain ini juga bakal dijadikan sebagai sebuah proposal dalam BIP (Bitcoin Improvement Proposal). Pihak Blockstream pun, berencana akan merilis source code Sidechain ini. Namun ternyata, pada 9 Mei 2016 lalu, pihak Blockstream justru mendaftarkan paten Sidechain.

Dirasa ide ini banyak menghasilkan potensi yang negatif untuk ekosistem bitcoin, maka perdebatan skalabilitas pun tetap berlanjut. Hingga kemudian muncul usulan tentang Segregated Witness di penghujung tahun 2015.

Segragated Witness – 7 Desember 2015

Pada penghujung tahun 2015, tepatnya pada sebuah even bertajuk Scalling Bitcoin yang digelar di Hong Kong pada 7 Desember, Pieter Wuille selaku Co-Founder Blockstream mengajukan proposal tentang Segregated Witness.

Sejak di even tersebut, segwit pun mulai banyak diperbincangkan. Ada sekian banyak manfaat yang bakal bisa diambil jika nanti segwit mampu diaktifkan pada protokol Bitcoin. Karena dengan mengaktifkan fitur segwit, maka sejumlah terobosan lain menjadi memungkinkan untuk dilakukan, seperti halnya Lightning Network, maupun juga Sidechain.

Pada transaksi bitcoin, bisa menyertakan satu atau lebih input transaksi. Input transaksi ini, menjelaskan dari mana sejumlah bitcoin tersebut berasal, hingga mampu membentuk kesejarahan transaksi. Sementara, satu atau lebih output transaksi itu, juga menyatakan kemana sejumlah bitcoin itu akan ditransaksikan. Agar transaksi dapat berjalan, maka diperlukan digital signature, yang hanya dapat dieksekusi oleh pemiliknya yang sah saja.

Dalam hal transaksi itu, pada segwit, digital signature itu akan dipisahkan, seolah tak lagi akan menjadi bagian transaksi, lalu mengambil data transaksi itu, dan dimasukkan kedalam merkle tree, hingga menjadi komponen input transaksi.

Artinya, ada sejumlah bagian yang tidak lagi dapat terbaca oleh penambang, sekaligus ukuran transaksi berpotensi menjadi lebih kecil, karena digital signature tersebut telah digenerate menjadi satu dalam input transaksi. Belakangan, banyak anggapan bahwa segwit, justru bakal membutuhkan ukuran block yang lebih besar. Karena meski digital signature tidak dilakukan dalam satu paket transaksi, namun data digital signature tersebut tetaplah ditambahkan pada block header. Lebih jauh, penjelasan tentang ini akan dibahas pada bagian lain pada perkembangan lanjutan perdebatan skalabilitas bitcoin.

Disamping itu, segwit dipercaya akan meminimalisir transaksi fraud. Hal itu juga karena digital signature tidak disertakan pada transaksi. Sehingga third party juga tidak akan mampu lagi untuk memodifikasi, dan juga merubah ID transaksi.

Namun lagi-lagi, ada sejumlah potensi negatif perlu menjadi perhatian lebih. Pengaktifan fitur Segwit, juga dianggap akan memberikan dampak pada ekosistem pertambangan. Ada beberapa bagian ekosistem bitcoin, yang masih banyak memanfaatkan detail informasi transaksi. Pihak yang paling merasa cukup keberatan, adalah Coinbase, merasa layanan mereka akan cukup banyak terganggu.

Pasalnya, dengan Segwit, maka pada block header nanti, tentu juga akan mempunyai detail informasi transaksi, bagian lainnya tentang data digital signature yang telah digenerate secara terpisah. Mereka beranggapan, hal ini akan menimbulkan efek yang cukup signifikan pada software mining yang akan digunakan.

Sementara, bagian utama perdebatan tentang usulan Segwit, adalah dengan jalan apakah nantinya akan diimplementasikan. Karena, implementasi Segwit, paling efektif jika dijalankan dengan hardfork. Sedangkan ekosistem Bitcoin, selama ini cukup berusaha untuk tidak mengambil opsi hardfork.

Berbagai pendapat yang berbeda, kemudian banyak bermunculan tentang segwit. Terutama, pada mekanisme apakah nantinya jika harus menggunakan Segwit. Perdebatan pun makin meruncing apakah developer Bitcoin berani mengambil langkah hardfork atau tidak. Sementara, desakan untuk menambah limit block juga makin deras.

Bersambung…

About Edukasi Bitcoin

EdukasiBitcoin adalah media online untuk berbagi pengetahuan dasar tentang Bitcoin. Harapannya, agar bisa dijadkan sebagai sumber informasi maupun sebagai referensi penambah pengetahuan yang bermanfaat, berkaitan dengan Bitcoin dan teknologi yang melingkupinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *